image source: http://screencrave.com/wp-content/uploads/2013/06/frozen-teaser-la-6-18-13.png
Si Manusia Salju
“Ini
benar-benar dingin yang menyegarkan”, kata Si Manusia Salju. “Hawa dinginnya
membuat seluruh tubuhku gemetar. Anginnya benar-benar menyejukkan. Dan benda
merah besar itu menghadap ke arahku”, sambung Si Manusia Salju. Benda merah
yang dimaksud adalah matahari yang sedang terbenam. “Aku tidak akan berkedip,
aku akan melihat hilangnya benda merah besar itu”.
Si
Manusia Salju memiliki dua keping ubin segitiga kecil di kepalanya, sebagai
ganti mata; dan mulutnya terbuat dari penggaruk tua yang rusak yang dilengkapi
dengan gigi. Si Manusia Salju dibuat ditengah-tengah terikan gembira anak
laki-laki dan bunyi bel kereta salju. Matahari telah terbenam dan bulan purnama
yang besar, bulat, putih, dan bersinar pun muncul di kegelapan malam.
“Dan
muncul lagi dari sisi lain”, kata Si Manusia Salju. Dia mengira bahwa matahari
menampakkan dirinya lagi. “Ah, aku telah membuat dia muncul lagi, walaupun
sekarang dia akan bergantung disana dan bersinar sehingga aku dapat melihat
diriku sendiri. Seandainya aku dapat menggerak tubuhku, aku akan berseluncur
diatas es seperti yang anak laki-laki lakukan. Tapi aku tidak tahu caranya,
bahkan aku tidak tahu caranya berlari”, katanya lagi.
“Pergi,
pergi”, salak si anjing penjaga tua. Suara Si Anjing sudah serak hingga gonggongannya
berbunyi “pergi, pergi”. Dulunya Si Anjing ini tinggal didalam rumah, berbaring
didepan api, dan suaranya sudah serak sejak saat itu. “Matahari suatu saat akan
membawamu pergi suatu saat. Aku melihat dia, saat musim dingin yang lalu,
pendahulumu dan yang sebelumnya lagi.
Pergi. Pergi, mereka semua telah pergi.”
“Aku
tidak paham kata-katamu kawan”, kata Si Manusia Salju. “ Apa benda yang diatas
sana akan mengajarkanku caranya berlari? Aku telah melihatnya bergerak beberapa
saat yang lalu dan sekarang merayap disisi yang lain.”
“Kau
tak tahu apa-apa”, balas Si Anjing. “Tapi nanti kau akan mengetahui bahwa
yang tergantung disana adalah Bulan dan yang sebelumnya adalah Matahari yang
akan datang kembali besok untuk mengajarkanmu caranya mengalir lewat parit
hingga ke sumur. Dan aku piker cuaca akan berubahaku bisa merasakannya menusuk
dan menghujam kaki kiriku. Aku yakin cuaca akan berubah.”
“Aku
tak mengerti dirinya,” kata Si Manusia Salju. “Tapi aku rasa dia bercerita
tentang sesuatu yang tidak menyenangkan. yang baru saja tampak dan sesuatu yang
dikatakannya adalah Matahari bukanlah temanku, aku dapat merasakannya juga”.
“Pergi,
pergi”, salak Si Anjing. Setelah itu Si Anjing berputar tiga kali dan berjalan dengan perlahan ke kandangannya.
Menjelang
pagi, cuaca pun mulai berubah. Kabut tebal menyelimuti seluruh tempat, angin
bertiup dengan kencang hingga mampu terasa hingga ke tulang. Tapi ketika
matahari terbit tampaklah pemandangan yang luar biasa. Pepohonan dan
semak-semak tertutupi oleh salju dan terlihat seperti batu karang yang berwarna
putih. Tetes-tetes embun yang membeku menempel di ranting-ranting pohon. Banyak
sekali pemandangan yang ketika musim panas bersembunyi dalam suburnya dedaunan,
saat ini terlihat seperti simpul yang berkilauan. Dari setiap ranting berkilauan
cahaya putih. Pohon birch yang bergoyang ketika tertiup angin seperti pohon di
musim panas dan bentuknya ketika saat itu luar biasa indahnya. Dan ketika
Matahari menyinarinya, cahaya putih dan kilauannnya nampak sepeti debu berlian
yang berhamburan. Karpet putih salju yang menyelimuti tanah tampak diselimuti
berlian yang berkilauan dan tak terhitung jumlahnya. Dan nampak lebih putih
dari salju itu sendiri.
“Ini
benar-benar indah”, kata seorang gadis yang datang ke taman bersama seorang
pemuda. Mereka berdua berdiri didekat Si Manusia Salju dan melihat-lihat
pemandangan. “Musim panas tidak akan seindah ini, katanya gadis itu lagi dengan
mata yang berbinar-binar.
“Dan
kita tak akan memiliki orang seperti dia ketika musim panas”, kata si pemuda
sambil menunjuk Si Manusia Salju. “Dia adalah bagian yang penting”. Si gadis
tertawa dan mengangguk ke arah Si Manusia Salju. Kemudian gadis berjalan bersama temannya di atas salju.
Salju di bawah kakinya berderak-derak seperti dia sedang menginjak-injak
tepung.
“Siapa
mereka berdua”, Si Manusia Salju kepada Si Anjing. “Kau disin lebilam daripada
aku, apa kau mengenal mereka?”.
“Tentu
saja aku mengenal mereka, yang gadis sering menggaruk punggungku dan yang pria
pernah memberikku tulang. Aku tak pernah menggigit mereka.
“Tapi
mereka itu apa?”, tanya Si Manusia Salju.
“Mereka
adalah sepasang kekasih, mereka akan bersama-sama tinggal di satu kandang dan
menggigit tulang yang sama”. “Pergi, pergi”.
Apa
mereka sama dengan kau dan aku?”, tanya Si Manusia Salju lagi.
“Yah,
tuan mereka sih sama”, tangkis Si Anjing. “Orang yang baru saja dilahirkan
kemarin pastinya hanya tahu sedikit hal. Aku bisa melihat hal itu padamu. Aku
lebih tua dan lebih berpengalaman. Aku tahu setiap orang yang tinggal dirumah
dan ada suatu waktu diamana aku tidak dihalaman, kedinginan, dan dirantai! Pergi,
pergi!”.
“Tapi
dinginnya sungguh menyegarkan”, sahut Si Manusia Salju. “Dan jangan
menhentak-hentakkan rantaimu seperti itu, bunyinya sungguh jelek
“Pergi,
pergi!” gonggong Si Anjing; “Aku akan bercerita padamu, dulu mereka bilang aku adalah
teman kecil mereka dan aku suka bermalas-malasan di kursi beludru, di rumah
pemilikku, kemudian duduk di pangkuan nyonya. Mereka dahulu biasa mencium
hidungku, dan mengusap moncongku dengan saputangan berbordir dan biasa
dipanggil ‘Ami, Ami sayang, Ami yang manis.’ Tapi setelah beberapa lama aku
tumbuh terlalu besar untuk mereka, mereka mengirimku ke ruang pembantu rumah
tangga, di lantai terbawah. Kamu bisa melihat ruangan itu dari tempat kamu
berdiri, dan melihat dimana ruangan yang biasa aku singgahi ketika aku menjadi
tuan dari pembantu rumah tangga. Ruangan itu tentu saja lebih kecil daripada
ruangan yang ada di ruangan atas, tapi aku merasa lebih nyaman karena aku tak
lagi dipegang dan ditarik-tarik oleh anak-anak seperti yang biasanya aku alami.
Aku menerima makanan yang lebih baik, malah terbaik. Aku punya makanan tersendiri,
dan disana
ada sebuah kompor—itu adalah benda yang paling mewah di dunia saat ini. Aku
biasanya pergi ke bawah kompor dan bermalas-malasan di bawahnya. Ah, aku masih
memimpikan kompor itu. Pergi, pergi!”
“Apakah
kompor itu terlihat cantik ?” Tanya Si Manusia Salju, “Apa seperti ku ?”
“Dia kebalikan darimu,” kata Si Anjing. “ Hitam seperti gagak, dan memiliki leher panjang dan sebuah gagang dari kuningan, dia membutuhkan kayu bakar,i apinya akan menyembur keluar dari mulutnya. Kita harus tetap berada di satu sisi, atau di bawah kompor, untuk merasa nyaman. Kamu bisa melihat itu melalui jendela, dari tempat kamu berdiri sekarang.”
“Dia kebalikan darimu,” kata Si Anjing. “ Hitam seperti gagak, dan memiliki leher panjang dan sebuah gagang dari kuningan, dia membutuhkan kayu bakar,i apinya akan menyembur keluar dari mulutnya. Kita harus tetap berada di satu sisi, atau di bawah kompor, untuk merasa nyaman. Kamu bisa melihat itu melalui jendela, dari tempat kamu berdiri sekarang.”
Kemudian Si
Manusia Salju mengintip ke dalam rumah, dan melihat benda berkilat dengan
gagang kuningan, dengan api menyala-nyala dari bagian bawah benda tersebut. Si
Manusia Salju merasakan sensasi aneh, sangat aneh. Dia tidak mengerti apa yang
terjadi, dan dia tidak tahu pasti. Tapi ada beberapa orang yang bukan manusia
salju yang mengerti apa yang terjadi. “Dan kenapa kamu meninggalkan dia ?”
Tanya Si Manusia Salju, yang Si Manusia Salju anggap kompor itu adalah seorang wanita.
“Kenapa bisa meninggalkan tempat senyaman itu begitu saja?”
“Aku disuruh”
jawab Si Anjing. “Mereka mengusirku keluar pintu, dan merantaiku di sini. Aku
telah menggigit kaki anak lelaki tuanku, karena dia menendang tulang yang
sedang aku santap. ‘Tulang dibalas tulang,’ Aku pikir, tapi mereka sungguh
marah, Dan kemudian aku telah diikat rantai dan aku juga kehilangan tulang itu.
Tidak kah kau dengar betapa seraknya aku. Pergi, pergi! Aku tak bisa berbicara
seperti anjing lain lagi. Pergi, pergi, sudah selesai.”
Tapi Si
Manusia Salju sejak tadi sudah tidak mendengarkan. Dia
sedang memandang ruangan pembantu rumah tangga di lantai bawah, tempat dimana
kompor tersebut berdiri dengan 4 kaki besinya, besar seperti Si Manusia Salju
sendiri. “Betapa sebuah perasaan yang aneh datang menghampiriku,” ujarnya.
“Apakah aku harus pergi ke sana ? Ini keinginan yang polos, dan keinginan yang
polos harus dipenuhi. Aku harus pergi kesana dan berbaring melawannya, walau
aku harus mendobrak jendela.”
“Kamu
jangan pernah pergi ke sana,” ujar anjing halaman itu. “Jika kamu pergi ke
kompor itu, kamu akan meleleh !”
“Aku
lebih baik pergi,” ujar Si Manusia Salju, “Untuk berpikir aku akan menyerah
begitu saja.”
Sepanjang
hari Si Manusia Salju berdiri memandang melalui jendela, dan di waktu sore
ruangan tersebut semakin menarik. Dari kompor tersebut muncul cahaya yang
lembut, tidak seperti matahari atau bulan; tidak, hanya sinar terang yang
temaram dari kompor ketika sudah dipakai. Ketika pintu di kompor telah terbuka,
api muncul keluar dari mulutnya; ini memang hal yang lumrah ada di setiap
kompor. Cahaya apinya terasa di muka dan tubuh Si Manusia Salju dengan sinar
kemerahan. “Aku tidak bisa menahannya,” ujarnya. “Betapa indahnya ketika api
tersebut mencuat seperti lidah?”
Malam
bergulir panjang, tapi tidak tampak demikian bagi Si Manusia Salju, yang
berdiri di sana menikmati pantulan dirinya, dan berhadapan dengan dingin. Di
pagi hari, jendela ruangan pembantu rumah tangga tertutup oleh es. Es tersebut
adalah es yang paling indah yang seluruh Si Manusia Salju damba, tapi mereka
menutupi kompor tersebut. Es yang menutupi jendela tak akan
mencair, dan dia tak bisa melihat kompornya sama sekali, yang dia gambarkan
sendiri seperti seorang manusia. Si Manusia Salju berderak dan angin bertiup di
sekelilingnya; itu adalah cuaca beku yang Si Manusia Salju manapun akan
menikmatinya. Tapi dia tidak menikmatinya; bagaimanapun, sesungguhnya, bisakah
dia menikmati apapun selagi dia sedang merindukan kompor tersebut?
“Itu
adalah penyakit yang buruk bagi Si Manusia Salju,” ujar Si Anjing. “Aku telah
terjangkit sendiri, tapi aku telah sembuh. Pergi, pergi,” dia menggonggong dan
menambahkan, “cuaca akan berubah.” Dan cuacanya berubah; cuaca mulai menghangat.
Bersamaan dengan kehangatan yang meningkat, Si Manusia Salju mulai
mencair. Dia
tidak berkata apapun dan tak mengucapkan keluhan sedikitpun, yang merupakan
sebuah pertanda yang pasti. Di pagi hari berikutnya dia sudah agak hancur, dan
rubuh, dan di tempat dia berdiri, sesuatu seperti gagang sapu tertancap di
tanah. Itu adalah gagang yang dipakai oleh anak-anak laki-laki untuk
membuatnya. “Ah, kini aku mengerti kenapa Si Manusia Salju begitu mendambakan
kompor tersebut,” ujar
Si Anjing. “Karena itu adalah sekop yang biasa dipakai untuk membersihkan isi
kompor, biasanya terpasang dengan gagangnya.” Si Manusia Salju adalah kepingan
dari pembersih kompor; itulah yang menyebabkan dirinya sangat mendambakan
kompor. “Tapi ini semua sudah berakhir, pergi, pergi…” Dan kemudian musim
dingin berlalu. “Pergi, pergi” sang anjing menggonggong dengan suara parau.
Terdengar suara gadis-gadis
di rumah bernyanyi,
“Datang
dari rumah semerbakmu, timus hijau; Renggangkan ranting lembutmu, pohon willow;
Bulan-bulan
membawa waktu musim semi yang manis, saat burung pipit di langit menyanyi
dengan ceria.
Datanglah
matahari, ketika burung tekukur menyanyi bernyanyi, dan aku akan mengejek not
lagunya dalam perjalanan.”
Dan tak
ada lagi yang memikirkan Si Manusia Salju lagi.
Hans Christian Andersen (1861)
Sumber: http://www.fairytalescollection.com/HansChristianAndersen/TheSnowMan
"Yah walaupun cuma menerjemahkan ke bahasa Indonesia, tetep aje pegel. Makasih buat Mila yang udah bantuin ane ngerjain setengahnya. Hontou ni Arigatou! (cek juga salah satu blognya dia gimunobscura.blogspot.com). Untuk postingan yang akan datang, ane usahain minggu depan kelar HUOOO!!"

Tidak ada komentar:
Posting Komentar