Anak keluarga miskin
Salah satu keunggulan dongeng karya Hans Christian Andersen adalah ceritanya yang kaya akan imajinasi. Maklum, kehidupan Andersen sendiri memang penuh dengan warna-warni kehidupan yang tak disangka.
Andersen lahir di Odense, Denmark, pada 12 April 1805. Ayahnya adalah seorang pembuat sepatu dan ibunya adalah tukang cuci pakaian pada keluarga kaya sebelum menikah dengan ayahnya Andersen.
Sebagai anak keluarga miskin, Andersen akrab dengan kesusahan. Apalagi setelah ayahnya meninggal, saat Andersen berusia sebelas tahu, ibunya meminta Andersen bekerja ke tukang jahit dan pabrik tembakau untuk membantu perekonomian keluarganya. Andersen merasa tidak bahagia dengan pekerjaannya itu. Di sekolah, dia pun lebih banyak menghabiskan waktu untuk melamun, berimajinasi tentang berbagai hal. Nah, ketika usianya menginjak empat belas tahun, Andersen meninggalkan rumah menuju kota Copenhagen.
Menjadi penulis
Di Copenhagen, Andersen mencoba peruntungan dengan menjadi seniman, aktor, penari, dan penyanyi. Disana, dia lalu bertemu dengan Jonas Collin, Sutradara Teater Royal yang mengetahui bakat Andersen dalam menulis. Kepada Collin, yang menjadi "bos" Andersen saat bekerja sebagai seniman disana, Andersen mengungkapkan keinginannya untuk menjadi penulis. Collin lalu menolongnya dengan mengupayakan beasiswa dari raja agar bisa kembali bersekolah dn mengasah kemampuan menulisnya.
Usaha itu tidak sia-sia. Di usia 23 tahun, Andersen berhasil masuk universitas di Copenhagen. Setahun kemudian, karyanya juga mulai diterbitkan di Denmark. Atas biaya dari raja, Andersen pun berkesempatan untuk melakukan perjalanan ke Jerman, Prancis, Swiss, dan Italia. Dari pengalaman perjalanannya itulah Andersen menulis berbagai skenario, novel, puisi, dan buku perjalanan. Juga menulis buku autobiografi berjudul "The Fairy Tale of My Life", yang diterbitkan pertama pada 1855.
Kisah-kisah dongeng anak-anak karyanya telah lebih dulu diterbitkan, yaitu pada tahun 1836 ("Fairy Tales for Children") dan meledak di pasaran dalam negeri maupun luar negeri. Hal itu tentu mengejutkan Andersen, yang sama sekali tidak menyangka bahwa dongeng-dongengnya begitu digemari pembaca segala usia diberbagai belahan dunia.
Hidup kesepian diakhir hidupnya
Karya Andersen memang berhasil menjadi legenda dunia. Tapi siapa sangka, Jika Andersen sepanjang hidupnya justru merasa dirinya adalah sosok yang buruk rupa. Andersen memiliki tubuh yang tinggi dan kurus dengan hidung yang panjang. Perasaan memiliki fisik yang tak menarik itulah yang kemudian memberikan Andersen inspirasi untuk menulis dongeng berjudul "The Ugly Duckling" ("Anak Itik Buruk Rupa").
Dongeng ini berkisah tentang seekor itik buruk rupa yang menetas bersama anak-anak ayam, sehingga dia menjadi yang paling berbeda dari anak-anak ayam lainnya, lalu dikucilkan.
Andersen tak pernah berhasil menyunting seorang perempuan untuk menjadi istrinya. Semua perempuan yang dilamarnya selalu menolak Andersen. Di tengah kesepian itulah Andersen mencurahkan segenap perasaan dan imajinasinya ke dalam berbagai bentuk kisah yang mengagumkan.
Andersen wafat pada 4 Agustus 1875. Ia menciptakan tak kurang 156 buah cerita dan telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa dan diterbitkan di berbagai negara.
Hingga kini, di berbagai belahan dunia, setiap malam dongeng-dongeng karyanya diceritakan oleh para orang tua pada anak-anaknya sebagai pengantar tidur. Dongeng-dongeng itu membuat rasa takut dan kesepian yang menyergap anak-anak menjadi hilang. Itulah warisan dari Hans Christian Andersen. Dunia tak lagi terasa sepi berkat dongeng-dongengnya.
Sumber: Paman Gober Edisi Nostalgia No. 52
"Well Kakek Andersen, ane inget banget pernah baca beberapa karyanya Andersen pas masih SD, dan beneran ceritanya sangat cocok untuk anak-anak (walaupun ga menutup kemungkinan untuk umur berapapun pembacanya). Karena ane udah ngebahas Andersen, maka postingan berikutnya akan berisi dongeng-dongengnya yang indah (doakan supaya bisa dapet semua karyanya >> 156)".

Tidak ada komentar:
Posting Komentar