Selasa, 23 Juli 2013

Si Manusia Salju


 
image source: http://screencrave.com/wp-content/uploads/2013/06/frozen-teaser-la-6-18-13.png
 Si Manusia Salju
“Ini benar-benar dingin yang menyegarkan”, kata Si Manusia Salju. “Hawa dinginnya membuat seluruh tubuhku gemetar. Anginnya benar-benar menyejukkan. Dan benda merah besar itu menghadap ke arahku”, sambung Si Manusia Salju. Benda merah yang dimaksud adalah matahari yang sedang terbenam. “Aku tidak akan berkedip, aku akan melihat hilangnya benda merah besar itu”.
Si Manusia Salju memiliki dua keping ubin segitiga kecil di kepalanya, sebagai ganti mata; dan mulutnya terbuat dari penggaruk tua yang rusak yang dilengkapi dengan gigi. Si Manusia Salju dibuat ditengah-tengah terikan gembira anak laki-laki dan bunyi bel kereta salju. Matahari telah terbenam dan bulan purnama yang besar, bulat, putih, dan bersinar pun muncul di kegelapan malam.
“Dan muncul lagi dari sisi lain”, kata Si Manusia Salju. Dia mengira bahwa matahari menampakkan dirinya lagi. “Ah, aku telah membuat dia muncul lagi, walaupun sekarang dia akan bergantung disana dan bersinar sehingga aku dapat melihat diriku sendiri. Seandainya aku dapat menggerak tubuhku, aku akan berseluncur diatas es seperti yang anak laki-laki lakukan. Tapi aku tidak tahu caranya, bahkan aku tidak tahu caranya berlari”, katanya lagi.
“Pergi, pergi”, salak si anjing penjaga tua. Suara Si Anjing sudah serak hingga gonggongannya berbunyi “pergi, pergi”. Dulunya Si Anjing ini tinggal didalam rumah, berbaring didepan api, dan suaranya sudah serak sejak saat itu. “Matahari suatu saat akan membawamu pergi suatu saat. Aku melihat dia, saat musim dingin yang lalu, pendahulumu dan yang sebelumnya lagi.  Pergi. Pergi, mereka semua telah pergi.”
“Aku tidak paham kata-katamu kawan”, kata Si Manusia Salju. “ Apa benda yang diatas sana akan mengajarkanku caranya berlari? Aku telah melihatnya bergerak beberapa saat yang lalu dan sekarang merayap disisi yang lain.”
“Kau tak tahu apa-apa”, balas Si Anjing. “Tapi nanti kau akan mengetahui bahwa yang tergantung disana adalah Bulan dan yang sebelumnya adalah Matahari yang akan datang kembali besok untuk mengajarkanmu caranya mengalir lewat parit hingga ke sumur. Dan aku piker cuaca akan berubahaku bisa merasakannya menusuk dan menghujam kaki kiriku. Aku yakin cuaca akan berubah.”
“Aku tak mengerti dirinya,” kata Si Manusia Salju. “Tapi aku rasa dia bercerita tentang sesuatu yang tidak menyenangkan. yang baru saja tampak dan sesuatu yang dikatakannya adalah Matahari bukanlah temanku, aku dapat merasakannya juga”.
“Pergi, pergi”, salak Si Anjing. Setelah itu Si Anjing berputar tiga kali dan  berjalan dengan perlahan ke kandangannya.
Menjelang pagi, cuaca pun mulai berubah. Kabut tebal menyelimuti seluruh tempat, angin bertiup dengan kencang hingga mampu terasa hingga ke tulang. Tapi ketika matahari terbit tampaklah pemandangan yang luar biasa. Pepohonan dan semak-semak tertutupi oleh salju dan terlihat seperti batu karang yang berwarna putih. Tetes-tetes embun yang membeku menempel di ranting-ranting pohon. Banyak sekali pemandangan yang ketika musim panas bersembunyi dalam suburnya dedaunan, saat ini terlihat seperti simpul yang berkilauan. Dari setiap ranting berkilauan cahaya putih. Pohon birch yang bergoyang ketika tertiup angin seperti pohon di musim panas dan bentuknya ketika saat itu luar biasa indahnya. Dan ketika Matahari menyinarinya, cahaya putih dan kilauannnya nampak sepeti debu berlian yang berhamburan. Karpet putih salju yang menyelimuti tanah tampak diselimuti berlian yang berkilauan dan tak terhitung jumlahnya. Dan nampak lebih putih dari salju itu sendiri.
“Ini benar-benar indah”, kata seorang gadis yang datang ke taman bersama seorang pemuda. Mereka berdua berdiri didekat Si Manusia Salju dan melihat-lihat pemandangan. “Musim panas tidak akan seindah ini, katanya gadis itu lagi dengan mata yang berbinar-binar.
“Dan kita tak akan memiliki orang seperti dia ketika musim panas”, kata si pemuda sambil menunjuk Si Manusia Salju. “Dia adalah bagian yang penting”. Si gadis tertawa dan mengangguk ke arah Si Manusia Salju. Kemudian  gadis berjalan bersama temannya di atas salju. Salju di bawah kakinya berderak-derak seperti dia sedang menginjak-injak tepung.
“Siapa mereka berdua”, Si Manusia Salju kepada Si Anjing. “Kau disin lebilam daripada aku, apa kau mengenal mereka?”.
“Tentu saja aku mengenal mereka, yang gadis sering menggaruk punggungku dan yang pria pernah memberikku tulang. Aku tak pernah menggigit mereka.
“Tapi mereka itu apa?”, tanya Si Manusia Salju.
“Mereka adalah sepasang kekasih, mereka akan bersama-sama tinggal di satu kandang dan menggigit tulang yang sama”. “Pergi, pergi”.
Apa mereka sama dengan kau dan aku?”, tanya Si Manusia Salju lagi.
“Yah, tuan mereka sih sama”, tangkis Si Anjing. “Orang yang baru saja dilahirkan kemarin pastinya hanya tahu sedikit hal. Aku bisa melihat hal itu padamu. Aku lebih tua dan lebih berpengalaman. Aku tahu setiap orang yang tinggal dirumah dan ada suatu waktu diamana aku tidak dihalaman, kedinginan, dan dirantai! Pergi, pergi!”.
“Tapi dinginnya sungguh menyegarkan”, sahut Si Manusia Salju. “Dan jangan menhentak-hentakkan rantaimu seperti itu, bunyinya sungguh jelek
“Pergi, pergi!” gonggong Si Anjing; “Aku akan bercerita padamu, dulu mereka bilang aku adalah teman kecil mereka dan aku suka bermalas-malasan di kursi beludru, di rumah pemilikku, kemudian duduk di pangkuan nyonya. Mereka dahulu biasa mencium hidungku, dan mengusap moncongku dengan saputangan berbordir dan biasa dipanggil ‘Ami, Ami sayang, Ami yang manis.’ Tapi setelah beberapa lama aku tumbuh terlalu besar untuk mereka, mereka mengirimku ke ruang pembantu rumah tangga, di lantai terbawah. Kamu bisa melihat ruangan itu dari tempat kamu berdiri, dan melihat dimana ruangan yang biasa aku singgahi ketika aku menjadi tuan dari pembantu rumah tangga. Ruangan itu tentu saja lebih kecil daripada ruangan yang ada di ruangan atas, tapi aku merasa lebih nyaman karena aku tak lagi dipegang dan ditarik-tarik oleh anak-anak seperti yang biasanya aku alami. Aku menerima makanan yang lebih baik, malah terbaik. Aku punya makanan tersendiri, dan  disana ada sebuah kompor—itu adalah benda yang paling mewah di dunia saat ini. Aku biasanya pergi ke bawah kompor dan bermalas-malasan di bawahnya. Ah, aku masih memimpikan kompor itu. Pergi, pergi!”
“Apakah kompor itu terlihat cantik ?” Tanya Si Manusia Salju, “Apa seperti ku ?”

“Dia kebalikan darimu,” kata Si Anjing. “ Hitam seperti gagak, dan memiliki leher panjang dan sebuah gagang dari kuningan, dia membutuhkan kayu bakar,i apinya akan menyembur keluar dari mulutnya. Kita harus tetap berada di satu sisi, atau di bawah kompor, untuk merasa nyaman. Kamu bisa melihat itu melalui jendela, dari tempat kamu berdiri sekarang.”

Kemudian  Si Manusia Salju mengintip ke dalam rumah, dan melihat benda berkilat dengan gagang kuningan, dengan api menyala-nyala dari bagian bawah benda tersebut. Si Manusia Salju merasakan sensasi aneh, sangat aneh. Dia tidak mengerti apa yang terjadi, dan dia tidak tahu pasti. Tapi ada beberapa orang yang bukan manusia salju yang mengerti apa yang terjadi. “Dan kenapa kamu meninggalkan dia ?” Tanya Si Manusia Salju, yang Si Manusia Salju anggap kompor itu adalah seorang wanita. “Kenapa bisa meninggalkan tempat senyaman itu begitu saja?”

“Aku disuruh” jawab Si Anjing. “Mereka mengusirku keluar pintu, dan merantaiku di sini. Aku telah menggigit kaki anak lelaki tuanku, karena dia menendang tulang yang sedang aku santap. ‘Tulang dibalas tulang,’ Aku pikir, tapi mereka sungguh marah, Dan kemudian aku telah diikat rantai dan aku juga kehilangan tulang itu. Tidak kah kau dengar betapa seraknya aku. Pergi, pergi! Aku tak bisa berbicara seperti anjing lain lagi. Pergi, pergi, sudah selesai.”

Tapi Si Manusia Salju sejak tadi sudah tidak mendengarkan.  Dia sedang memandang ruangan pembantu rumah tangga di lantai bawah, tempat dimana kompor tersebut berdiri dengan 4 kaki besinya, besar seperti Si Manusia Salju sendiri. “Betapa sebuah perasaan yang aneh datang menghampiriku,” ujarnya. “Apakah aku harus pergi ke sana ? Ini keinginan yang polos, dan keinginan yang polos harus dipenuhi. Aku harus pergi kesana dan berbaring melawannya, walau aku harus mendobrak jendela.”

“Kamu jangan pernah pergi ke sana,” ujar anjing halaman itu. “Jika kamu pergi ke kompor itu, kamu akan meleleh !”

“Aku lebih baik pergi,” ujar Si Manusia Salju, “Untuk berpikir aku akan menyerah begitu saja.”
Sepanjang hari Si Manusia Salju berdiri memandang melalui jendela, dan di waktu sore ruangan tersebut semakin menarik. Dari kompor tersebut muncul cahaya yang lembut, tidak seperti matahari atau bulan; tidak, hanya sinar terang yang temaram dari kompor ketika sudah dipakai. Ketika pintu di kompor telah terbuka, api muncul keluar dari mulutnya; ini  memang hal yang lumrah ada di setiap kompor. Cahaya apinya terasa di muka dan tubuh Si Manusia Salju dengan sinar kemerahan. “Aku tidak bisa menahannya,” ujarnya. “Betapa indahnya ketika api tersebut mencuat seperti lidah?”

Malam bergulir panjang, tapi tidak tampak demikian bagi Si Manusia Salju, yang berdiri di sana menikmati pantulan dirinya, dan berhadapan dengan dingin. Di pagi hari, jendela ruangan pembantu rumah tangga tertutup oleh es. Es tersebut adalah es yang paling indah yang seluruh Si Manusia Salju damba, tapi mereka menutupi kompor tersebut.  Es yang menutupi jendela tak akan mencair, dan dia tak bisa melihat kompornya sama sekali, yang dia gambarkan sendiri seperti seorang manusia. Si Manusia Salju berderak dan angin bertiup di sekelilingnya; itu adalah cuaca beku yang Si Manusia Salju manapun akan menikmatinya. Tapi dia tidak menikmatinya; bagaimanapun, sesungguhnya, bisakah dia menikmati apapun selagi dia sedang merindukan kompor tersebut?

“Itu adalah penyakit yang buruk bagi Si Manusia Salju,” ujar Si Anjing. “Aku telah terjangkit sendiri, tapi aku telah sembuh. Pergi, pergi,” dia menggonggong dan menambahkan, “cuaca akan berubah.” Dan cuacanya berubah; cuaca mulai menghangat. Bersamaan dengan kehangatan yang meningkat, Si Manusia Salju mulai mencair.  Dia tidak berkata apapun dan tak mengucapkan keluhan sedikitpun, yang merupakan sebuah pertanda yang pasti. Di pagi hari berikutnya dia sudah agak hancur, dan rubuh, dan di tempat dia berdiri, sesuatu seperti gagang sapu tertancap di tanah. Itu adalah gagang yang dipakai oleh anak-anak laki-laki untuk membuatnya. “Ah, kini aku mengerti kenapa Si Manusia Salju begitu mendambakan kompor tersebut,”  ujar Si Anjing. “Karena itu adalah sekop yang biasa dipakai untuk membersihkan isi kompor, biasanya terpasang dengan gagangnya.” Si Manusia Salju adalah kepingan dari pembersih kompor; itulah yang menyebabkan dirinya sangat mendambakan kompor. “Tapi ini semua sudah berakhir, pergi, pergi…” Dan kemudian musim dingin berlalu. “Pergi, pergi” sang anjing menggonggong dengan suara parau.

Terdengar suara gadis-gadis di rumah bernyanyi,
“Datang dari rumah semerbakmu, timus hijau; Renggangkan ranting lembutmu, pohon willow;
Bulan-bulan membawa waktu musim semi yang manis, saat burung pipit di langit menyanyi dengan ceria.
Datanglah matahari, ketika burung tekukur menyanyi bernyanyi, dan aku akan mengejek not lagunya dalam perjalanan.”

Dan tak ada lagi yang memikirkan Si Manusia Salju lagi.

Hans Christian Andersen (1861)


Sumber: http://www.fairytalescollection.com/HansChristianAndersen/TheSnowMan

"Yah walaupun cuma menerjemahkan ke bahasa Indonesia, tetep aje pegel. Makasih buat Mila yang udah bantuin ane ngerjain setengahnya. Hontou ni Arigatou! (cek juga salah satu blognya dia gimunobscura.blogspot.com). Untuk postingan yang akan datang, ane usahain minggu depan kelar HUOOO!!"

Senin, 15 Juli 2013

Hans Christian Andersen: Bapak Dongeng Dunia


Kalau kita pernah membaca dongeng "Itik Buruk Rupa" yang melegenda, kita tentu juga mengenal pengarangnya. Ya, siapa lagi kalau bukan Hans Christian Andersen. Nah pada tahun 2005 ini adalah genap 200 tahun peringatan lahirnya pengarang legendaris yang mendapat julukan "Bapak Pendongeng Dunia" itu. Mungkin hingga ratusan tahun mendatang namanya masih akan tetap melegenda. sebab hingga kini dongeng-dongeng indah ciptaannya itu masih menjadi sahabat setia anak-anak menjelang tidur. Namun siapa sangka hidupnya tak seindah dongeng ciptaannya.

Anak keluarga miskin
Salah satu keunggulan dongeng karya Hans Christian Andersen  adalah ceritanya yang kaya akan imajinasi. Maklum, kehidupan Andersen sendiri memang penuh dengan warna-warni kehidupan yang tak disangka. 
Andersen lahir di Odense, Denmark, pada 12 April 1805. Ayahnya adalah seorang pembuat sepatu dan ibunya adalah tukang cuci pakaian pada keluarga kaya sebelum menikah dengan ayahnya Andersen.
Sebagai anak keluarga miskin, Andersen akrab dengan kesusahan. Apalagi setelah ayahnya meninggal, saat Andersen berusia sebelas tahu, ibunya meminta Andersen bekerja ke tukang jahit dan pabrik tembakau untuk membantu perekonomian keluarganya. Andersen merasa tidak bahagia dengan pekerjaannya itu. Di sekolah, dia pun lebih banyak menghabiskan waktu untuk melamun, berimajinasi tentang berbagai hal. Nah, ketika usianya menginjak empat belas tahun, Andersen meninggalkan rumah menuju kota Copenhagen.

Menjadi penulis
Di Copenhagen, Andersen mencoba peruntungan dengan menjadi seniman, aktor, penari, dan penyanyi. Disana, dia lalu bertemu dengan Jonas Collin, Sutradara Teater Royal yang mengetahui bakat Andersen dalam menulis. Kepada Collin, yang menjadi "bos" Andersen saat bekerja sebagai seniman disana, Andersen mengungkapkan keinginannya untuk menjadi penulis. Collin lalu menolongnya dengan mengupayakan beasiswa dari raja agar bisa kembali bersekolah dn mengasah kemampuan menulisnya.
Usaha itu tidak sia-sia. Di usia 23 tahun, Andersen berhasil masuk universitas di Copenhagen. Setahun kemudian, karyanya juga mulai diterbitkan di Denmark. Atas biaya dari raja, Andersen pun berkesempatan untuk melakukan perjalanan ke Jerman, Prancis, Swiss, dan Italia. Dari pengalaman perjalanannya itulah Andersen menulis berbagai skenario, novel, puisi, dan buku perjalanan. Juga menulis buku autobiografi berjudul "The Fairy Tale of My Life", yang diterbitkan pertama pada 1855. 
Kisah-kisah dongeng anak-anak karyanya telah lebih dulu diterbitkan, yaitu pada tahun 1836 ("Fairy Tales for Children") dan meledak di pasaran dalam negeri maupun luar negeri. Hal itu tentu mengejutkan Andersen, yang sama sekali tidak menyangka bahwa dongeng-dongengnya begitu digemari pembaca segala usia diberbagai belahan dunia.

Hidup kesepian diakhir hidupnya
Karya Andersen memang berhasil menjadi legenda dunia. Tapi siapa sangka, Jika Andersen sepanjang hidupnya justru merasa dirinya adalah sosok yang buruk rupa. Andersen memiliki tubuh yang tinggi dan kurus dengan hidung yang panjang. Perasaan memiliki fisik yang tak menarik itulah yang kemudian memberikan Andersen inspirasi untuk menulis dongeng berjudul "The Ugly Duckling" ("Anak Itik Buruk Rupa"). 
Dongeng ini berkisah tentang seekor itik buruk rupa yang menetas bersama anak-anak ayam, sehingga dia menjadi yang paling berbeda dari anak-anak ayam lainnya, lalu dikucilkan.
Andersen tak pernah berhasil menyunting seorang perempuan untuk menjadi istrinya. Semua perempuan yang dilamarnya selalu menolak Andersen. Di tengah kesepian itulah Andersen mencurahkan segenap perasaan dan imajinasinya ke dalam berbagai bentuk kisah yang mengagumkan.
Andersen wafat pada 4 Agustus 1875. Ia menciptakan tak kurang 156 buah cerita dan telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa dan diterbitkan di berbagai negara.
Hingga kini, di berbagai belahan dunia, setiap malam dongeng-dongeng karyanya diceritakan oleh para orang tua pada anak-anaknya sebagai pengantar tidur. Dongeng-dongeng itu membuat rasa takut dan kesepian yang menyergap anak-anak menjadi hilang. Itulah warisan dari Hans Christian Andersen. Dunia tak lagi terasa sepi berkat dongeng-dongengnya. 

Sumber: Paman Gober Edisi Nostalgia No. 52



"Well Kakek Andersen, ane inget banget pernah baca beberapa karyanya Andersen pas masih SD, dan beneran ceritanya sangat cocok untuk anak-anak (walaupun ga menutup kemungkinan untuk umur berapapun pembacanya). Karena ane udah ngebahas Andersen, maka postingan berikutnya akan berisi dongeng-dongengnya yang indah (doakan supaya bisa dapet semua karyanya >> 156)".